belabaja.desa.id Kami melayani dengan hati

Selamat Datang di desa Belabaja

WEBSITE DESA


Sistem Informasi Desa (SID)

Pengolahan data dan informasi berbasis komputer menjadi salah satu rujukan dasar dan pemberi fungsi layanan.

Layanan Publik

Meliputi pendidikan, pekerjaan, usaha, lingkungan hidup, jaminan sosial, koperasi, sumber daya alam dan pariwisata.

Efektif dan Efisien

Pelayanan desa berbasis komputer ini akan membuat pelaksanaan pembangunana desa secara efektif dan efisian.

Hubungi Kami

Layanan pemerintahan desa akan dilakukan secara offline dan online.

Apa tanggapan Anda terhadap layanan ini?
Ayo kita monitor semua proyek pembangunan desa!

GET IN TOUCH

RUBRIK PILIHAN


Berita Dari Kampung
Terkini

Sosok: Nikodemus Langin Wuwur, Dari Koster ke Koster

 
Profil tokoh desa
Nikodemus Langin Wuwur, Foto: Istimewa
BELABAJA.DESA.ID - Setiap awal bulan Nikodemus Langin Wuwur membawa klombu (kantong terigu) mengambil bulgur. Bulgur itu adalah gajinya sebagai koster.


Suatu malam pada 2005, Nikodemus Langin Wuwur didatangi Ketua Dewan Stasi Boto, Paroki St Joseph Boto, yaitu Apolonaris Dua Baon. Ia diminta kesediaannya menjadi koster. Tugasnya, membantu Pastor Paroki Boto untuk membantu persiapan Misa, baik di gereja atau lingkungan.


Ia sempat menolak dalam hati. Ia pernah menjalani tugas sebagai koster sejak masih muda hingga berumah tangga. Karena itu, ia berpikir tugas koster sudah saatnya beralih kepada orang lain. Minimal, muda-mudi Katolik (Mudika) Stasi Boto.


Ia menyarankan perlu ada regenerasi dalam tugas sebagai koster. Ia sendiri pernah menjadi Ketua Mudika Paroki dan Stasi Boto beberapa periode. “Saya juga menjadi pemain gitar untuk mengiring koor saat berlangsung Misa di gereja,” cerita Demus Langin, sapaan akrab Nikodemus Langin Wuwur.


Namun dalam hatinya ia merasa berdosa menolak tugas mulia ini. Istrinya, Magdalena Pukan, justru mendorongnya agar menerima tugas itu. Begitu pula keluarga dekatnya, Bernardus Buga Wuwur, yang saat itu hadir menemaninya saat menerima Apolo Baon. Ia akhirnya bersedia.


“Saat menerima tugas itu saya tidak merasa terbebani. Dalam hati saya bahwa tugas ini cuma pengabdian sehingga mesti diterima dalam suasana hati yang lapang. Apalagi, istri saya juga mendorong saya untuk menerima tugas itu. Lucunya, tak diberitahu batas waktu jadi koster. Semua itu saya lakukan karena panggilan. Tak ada gaji tetapi pada akhir tahun diberi Rp. 200 ribu sebagai tanda terima kasih,” cerita Demus Langin.


Bergaji Bulgur
Jauh sebelum itu, Demus Langin juga dikenal sebagai aktivis Paroki Boto. Pada tahun 1962 – 1963 ia sudah menjadi koster melalui serangkaian test. Pastor Paroki Boto, Pastor Jan Knoor, SVD melakukan test bagi para calon. Misalnya, kemampuan bahasa Latin atau menghafal doa-doa harian berbahasa Latin. Nah, Demus Langin termasuk salah satu yang lolos.


“Setelah lolos, saya jadi koster bersama beberapa teman. Saat itu kami digaji dengan bulgur. Setiap awal bulan kami membawa klombu untuk ambil bulgur di pastoran. Bulgur itu warnanya mirip beras merah dan kalau dimakan rasanya agak kasar. Katanya orang barat pake untuk makanan babi. Selain bulgur, pas Natal atau Paskah Pastor Jan beri kami buku tulis dan obat-obatan,” kenang Demus Langin.


Ia juga termasuk pemain gitar handal tahun 1978 - 1983. Keahlian itu ia dapat dari Martinus Payong Pukan yang kala itu menjadi guru di SMP Lamaholot Boto. Namun, setelah Payong Pukan pindah ke Lewoleba, poisisinya beralih ke tangan Martin Wato Pukan sebelum akhirnya ia ambil alih. “Kami sangat senang karena gitar itu dihadiakan Sr Almaria SSpS. Suster ini orang Jerman yang bertugas di susteran SSpS Boto. Sr Dorotildis SSpS yang selalu setia mengeluarkan dan mengamankan kembali di gudang usai digunakan di gereja,” cerita Demus Langin.


Memerankan Jesus
Badannya yang agak kurus membuat Demus Langin dipercayakan rekan-rekan Mudika Stasi Boto menjadi pemeran tokoh Yesus Dalam drama Kisah Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus saat Upacara Jalan Salib. Tak hanya itu. Pada periode 1980 – 1982, ia masih dipercayakan sebagai Ketua Mudika Stasi dan Paroki Boto. Ia juga mengisahkan pengalaman pribadinya saat memutuskan menikah.


“Semua perlengkapan pengantin hingga acara di gereja dan ramah tamah di rumah saya ditanggung para suster SSpS Boto. Belanja minyak tanah pun mereka yang atur. Ya, ini mungkin karena saya dan calon istri sudah aktif di Mudika. Rekan kami, Valens Batafor menjahit pakaian penganti saya. Sedangkan suster menyiapkan gaun pengantin, tempat tidur, sprei, dan sarung bantal. Tempat tidur pengantin itu dibuat tukangnya dalam waktu singkat,” katanya.


Ia mengaku, meski rekan-rekannya di Mudika dulu sibuk dengan tugas masing-masing, toh mereka masih saling memberikan dukungan. Valens Batafor, misalnya, hanya bertahan dengan satu kaki karena ditabrak sebuah truk di stasi Belang beberapa tahun lalu. Kini Valens adalah guru SMP Lamaholot Boto. Sedangkan, rekan lainnya Suster Helena, SSpS, kini pimpinan rumah tangga SSpS Balela, Larantuka, Flores Timur. Begitu juga Lazarus Baon, kini camat Nagawutun, Lembata.


Bekas penjaga gawang keseblasan Desa Labalimut (Boto) ini juga pernah menjadi buruh migran di negeri Jiran Malaysia tahun 1999 - 2000. Hasilnya, ia bisa membangun rumah permanen di kampungnya. Ia juga menyekolahkan ketiga anaknya. Anak pertama, Fransiska Xaveria Nogo Wuwur tamat SMAN 1 Lewoleba dan kini tenaga kontrak di Lembata. Anak kedua, Theresia Paskalina Kemoung Wuwur, siswi SMAN 1 Lewoleba, dan Gertrudis Kenuka Wuwur, siswi SMP Negeri Nagawutun 2 di Boto.


Saat ini, Demus Langin mengaku enjoy dengan tugas sebagai koster. Ia bisa membantu Pastor Piet Maing Pr setelah Pastor Yan Sasi Pr dipindahkan ke Larantuka. Namun, ia masih gelisah dengan peran Mudika yang masih jauh dari harapan. Terutama keterlibatan dalam hal-hal rohani. Justru yang nampak lebih banyak orangtua.


“Saya harapkan agar pihak Keuskupan Larantuka turun ke paroki-paroki untuk memberikan pemahaman tentang apa sesungguhnya peran orang muda Katolik ke depan. Itu salah satu tugas penting yang mesti dilakukan keuskupan. Jangan sampai peran Mudika makin mengendor di saat paroki membutuhkan peran Mudika,” kata koster kelahiran, 15 Maret 1951 ini.


Sumber: Mingguan Flores Pos Jakarta edisi 19-26 Desember 2007

Catatan Desa: Belabaja Dapat Bantuan PNPM Desa Wisata 2011

 
Catatan bantuan terhadap desa wisata
Alfons Prawin Pukan, Kepala Desa Belabaja
BELABAJA.DESA.ID - Desa Belabaja, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur mendapat bantuan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pariwisata Tahun Anggaran 2011 dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Republik Indonesia.


Kepala Desa Belabaja Alfons Prawin Pukan mengemukakan hal itu dalam keterangannya kepada media ini melalui telepon selular (handphone) dari kantor Desa Belabaja, Dusun Kluang, Lembata, Rabu, 1/3 2011 siang.


“Beberapa waktu lalu Pak Kepala Dinas Pariwisata Lembata bersama staf tiba di Kluang, guna bersama-sama masyarakat mempersiapkan pembentukan kelompok masyarakat dalam menyambut program bantuan tersebut. Ini menjadi kebanggaan bagi kami masyarakat di kampung karena pemerintah care dengan kami,” ujar Alfons Prawin.


Sebelumnya, menurut Prawin, pihaknya mendapat informasi desa Belabaja dan Lamalera A di Lembata merupakan dua dari 27 desa di Propinsi NTT masuk dalam rencana wilayah sasaran PNPM Mandiri Pariwisata Tahun Anggaran 2011 dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.


Informasi itu dikemukakan anggota Komisi X DPR RI asal NTT Dr Jefirston Riwu Kore, MM usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) komisinya dengan jajaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang dipimpin Menteri Jero Wacik di Ruang Rapat Komisi X, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin 13/12 2010) malam.


Menurut Jefri, informasi yang diterima menyebutkan bahwa Tahun Anggaran 2011, sebanyak 27 desa di NTT mendapat alokasi anggaran PNPM Mandiri Desa Wisata.


“Ini merupakan berita baik dalam rangka ikut memajukan dan mengembangkan pariwisata Nusa Tenggara Timur,” ujar Jefri Kore kepada wartawan usai menghadiri Rapat Paripurna DPR di Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Selasa (14/12 2010).


Menurut legislator yang juga membidang masalah pariwisata, 27 desa tersebut tersebar di 11 kabupaten/kota. Desa-desa di 27 kabupaten yaitu Desa Koposili, Pemo, dan Nduaria di Kecamatan Kelimutu dan Desa Wologai Tengah di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende.


Kemudian Desa Wae Sano, Cunca Lolos, dan Liang Dara di Kecamatan Sononggoang dan Desa Labuan Bajo, Komodo, Pasir Panjang, Desa Batu Cermin di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Kemudian Desa Satarlenda, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai dan Desa Nangalabang, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.


Di Lembata adalah Desa Belabaja, Kecamatan Nagawutun dan Desa Lamalera A di Kecamatan Wulandoni. Sementara itu di Kabupaten Flores Timur adalah Desa Sinar Hadung dan Desa Bantala, Kecamatan Tanjung Bunga.


Sementara Kota Kupang kebagian satu desa yaitu Desa Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima. Di Kabupaten Rote Ndao masing-masing Desa Nembrala dan Boa di Kecamatan Rote Barat. Sementara itu Kecamatan Kakolo Mesak, Kabupaten Belu adalah Desa Fatuketi, Kenebibi, dan Dua Laos.


Kemudian Desa Rindi di Kecamatan Rindi Umalulu dan Desa Londa Lima di Kecamatan Panda Wai, Kabupaten Sumba Timur. Juga Desa Fatumnasi dan Boto di Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan.


Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengemukakan, PNPM Mandiri Bidang Pariwisata Tahun Anggaran 2011 didukung anggaran sebesar Rp. 61,7 miliar untuk mengembangkan 569 desa wisata di 33 propinsi.


“Jumlah ini mengalami peningkatan anggaran sebesar 315,19 persen dibandingkan tahun 2010 sebesar Rp. 19.575.000.000 untuk 200 desa wisata di 29 propinsi di Indonesia,” kata Jero Wacik.


Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Tahun Anggaran 2011 mengalokasikan anggaran penataan dan pembangunan pariwisata melalui Program Peningkatan Penyiapan Infrastruktur untuk Penambahan Destinasi Wisata dengan dukungan anggaran sebesar Rp. 4 miliar untuk 12 destinasi wisata di kabupaten/kota seluruh Indonesia. 


Ditulis oleh: Joze Sanga, Kepala Dusun B Desa Belabaja

Aloysius Ola Pukan dan Aloysia Kewa de Ona: Saatnya Menuai

 
Sosok petani tradisional di Lembata, Nusa Tenggara Timur
Aloysius Ola Pukan dan Aloysia Kewa de Ona, Foto: istimewa
BELABAJA.DESA.ID - Pasangan Aloysius Ola Pukan dan Aloysia Kewa de Ona hanyalah petani tradisonal di Lembata, Nusa Tenggara Timur. Namun, delapan dari sembilan anaknya meraih sarjana. Seorang di antaranya menjadi pastor.


Meski telah memasuki masa senja, Aloysus dan Aloysia masih masih energik. Selama puluhan tahun mereka mengandalkan hidup dari ladang dengan sistem tebas bakar. Warga Dusun Kluang, Desa Belabaja di Pulau Lembata ini mendidik anak-anak mereka dengan memberi contoh. Bukan sekadar kata-kata.


Sebagai orangtua yang bertanggungjawab, mereka membina dan mengarahkan anak-anaknya agar tekun menimba ilmu demi masa depan. Doa dan permohonan kepada Tuhan serta devosi kepada Bunda Maria yang terus-menerus membuahkan hasil.


Anak sulung mereka Payong Pukan Martinus kini menjadi Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Lembata. Sedang tujuh mereka lainnya juga berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan bertugas di NTT. Sedangkan seorang anak mereka, Stef Smata Pukan, memilih menjadi imam Serikat Sabda Allah (SVD). Kini Pastor Stef menjadi misionaris di uar negeri. Sebelumnya, ia sempat berkarya di Keuskupan Ruteng, Manggarai, Flores.


Menurut Aloysius, anak adalah permata dan titipan Tuhan yang perlu dirawat, didik dan dibesarkan menurut tradisi iman Katolik. Dengan demikian, kelak mereka bisa berguna bagi Gereja, bangsa, dan negara. “Tugas orang tua adalah mengantar anak-anaknya untuk menyongsong masa depan yang cerah,” tandasnya.


Aloysius dan Aloysia sadar, keberhasilan membimbing dan mengarahkan anak-anaknya meraih masa depan mereka tidak bisa lepas dari ketekunan berdevosi kepada Bunda Maria.


“Saat seorang anak saya minggat dari sekolah dan suka keluyuran ke hutan mencari ayam hutan, saya bingung. Saya harus keluar masuk hutan mencarinya hingga ia bisa masuk sekolah kembali. Saya hanya meminta bantuan Bunda Maria agar anak saya disadarkan,” kenang Aloysius. Lalu, ia mencarinya keluar masuk hutan agar anaknya mau masuk sekolah lagi. “Saya meminta bantuan Bunda Maria agar anak saya ini disadarkan,” ungkapnya.


Penuh Perjuangan
Aloysiua mengenang masa mudanya yang penuh perjuangan. Ketika usianya memasuki 25 tahun, ibunya menyarankan agar ia segera mencari menyunting gadis desanya untuk menjadi pendamping hidup. Sang ibu khawatir ia menjadi bujang lapuk.


Awalnya, Aloysius menolak. Ia beralasan, sang ayah yang menjadi sandaran hidup keluarga telah meninggal dunia. Apalagi, urusan pernikahan pasti membutuhkan dana yang tidak sedikt. Almahrum ayahnya hanya seorang petani kecil yang tidak mewariskan harta yang cukup. Dan yang Aloysius merasa khawatir adalah karena ia tidak mempunyai pekerjaan tetap.


Aloysius merenungkan kembali kata-kata ibunya yang terus-menerus menganjurkan agar ia segera menikah. “Seandainya sudah ada pekerjaan, sekecil apapun penghasilan, bisa memberikan jaminan untuk menafkahi istri dan anak-anak,” katanya berandai-andai.


Selama beberapa waktu Aloysius menimbang-nimbang nasihat ibunya. “Barangkali Mama akan bahagia kalau melihat saya berumah tangga,” simpulnya.


Lalu, Aloysius berusaha agar bisa memperoleh pekerjaan tetap. Dengan demikian ia bisa mewujudkan keinginan ibunya. Setelah itu, ia mulai membidik gadis desanya, Aloysia Kewa de Ona. Gadis sederhana itu menawan hatinya. Mula-mula ia menulis surat kepada Aloysia untuk mengungkapkan isi hati sekaligus perasaan cintanya. Namun, jawaban surat Aloysia membuatnya kecewa. Gadis itu menolak cinta Aloysius!


Penyebabnya, orangtua Aloysia tidak berkenan melihat watak Aloysius yang dinilai kasar dan keras. Awalnya, orangtua Aloysia menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Aloysius. Kemudian dengan terus terang mereka mengingatkan Aloysius agar tidak boleh main gila dengan putrinya. “Kalau memang benar-benar saya mencintai anaknya, saya harus menghadap keluarganya,” kenang Aloysius.


Karena merasa diancam oleh keluarga Aloysia, Aloysius mengungsi ke Lamalewar, kampung tetangganya. Selama dua minggu ia bertahan di Lamalewar. Selama dua minggu ia bertahan di sana dan rajin mengikuti kebaktian mingguan. Sekembali dari Lamalewar, sang ibu mendatangi rumah orangtua Aloysia. Ia menyampaikan kesungguhan niat Aloysius mempersunting Aloysia.


Setelah melintasi masa pacaran, tahun 1948, kedua sejoli yang dimaduk asmara itu menyatakan akan menjadi pasangan suami-istri. Namun, pernikahan itu sempat tertunda selama dua tahun.


Aloysius memutuskan untuk merantau terlebih dahulu ke Kupang selama beberapa waktu. Setelah mempertimbangkan kembali hingga matang, akhirnya tahun 1950 pasangan Aloysius dan Aloysia saling menerimakan Sakramen Perkawinan di Gereja St. Joseph Boto. Janji saling setia pun berkumandang di hadapan Pastor Bernard Bode, SVD. Saat itu, imam asal Jerman itu berkarya di Paroki Lamalera.


Jatuh Sakit
Di awal menjalani kehidupan rumah tangga, Aloysus mengalami cobaan besar. Tahun 1951, ketika anak pertamanya lahir, Alo jatuh sakit. Selama lima tahun ia hanya terbaring di atas tempat tidur karena pendarahan. Dari hidungnya selalu mengalir darah segar. “Saya serahkan hidup dan mati saya kepada Bunda Maria. Selama itu, saya pertaruhkan hidup saya hanya kepada Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus. Setiap malam saya berdoa Rosario,” kenang Aloysius.


Dalam situasi yang serba sulit, ia hanya bisa berpasrah. Ia serahkan penderitaan pada kebesaran Tuhan dan Bunda Maria. Ia berpikir, kalau benar-benar Tuhan memanggil dirinya, maka ia menyerahkan diri sepenuh hati. Dalam kondisi demikian, ia teringat pesan Almahrum ayahnya bahwa meminta berkat dan rahmat dari Tuhan dan Bunda Maria, bukan hanya sekali atau dua kali. Hal itu harus dilakukan terus-menerus. “Menurut ayah saya, kalau hal itu kita lakukan terus-menerus akan ada mujizat dalam hidup kita,” sitir Aloysus.


Ternyata, pesan ayahnya bukan omong kosong belaka. Keajaiban Tuhan dan Bunda Maria sungguh ia rasakan. “Doa Rosario yang kami lakukan setiap malam ternyata sangat ampuh. Bunda Maria mendengar doa dan permohonan saya atas penderitaan saya,” kata Aloysius menegaskan.


Nyatanya, usahanya mendatangi orang-orang di desa tetangga untuk membantu menyembuhkan pendarahan yang menimpanya dibarengi dengan doa, tidaklah sia-sia.


Makin dekat
Kesembuhan dari penyakit pendarahan selama bertahun-tahun membuat Aloysius makin dekat dengan Tuhan dan Bunda Maria. Sejak itu, ia kian menghidupkan devosi kepada Bunda Maria dan keluarga kudus dari Nazareth. Tak ada hari terlampaui tanpa berdoa dengan perantaraan Bunda Maria.


Padahal, untuk berdoa dan berdevosi saat itu mereka menghadapi sedikit kendala. Gambar-gambar suci Bunda Maria, Tuhan Yesus, dan Santu Yoseph merupakan barang langka saat itu. Kalau pun ia memilikinya, gambar suci itu makin buram. Warnanya telah pudar.


Aloysius tak kehilangan akal. Syukurlah, ia bisa menggambar ala kadarnya. Dengan sedikit keahlian menggambar, Aloysius pun menggambar sendiri wajah Bunda Maria, Tuhan Yesus, dan Santu Yosep. Lalu, gambar-gambar itu, ia letakkan di pojok kamar keluarganya. “Gambar itu menjadi salah satu sarana kami untuk berdoa bersama-sama,” imbuh Aloysius.


Tak hanya itu. Aloysius juga mengukir patung Bunda Maria dan Tuhan Yesus yang tergantung di salib. Ia berusaha semampu mungkin agar patung bikinannya bisa mirip dengan wajah Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang ia lihat di gambar-gambar. Setelah patung-patung itu jadi, ia tak ragu membawanya ke Pastor Paroki Boto untuk diberkati. “Semua itu menjadi sarana kami berdoa,” tambahnya lagi.


Sejak anak-anak masih kecil, Aloysius dan Aloysia sudah membiasakan mereka berdoa. Setiap malam mereka selalu berdoa bersama. Begitu juga setiap pagi mereka selalu mengawali aktivitas harian dengan berdoa. Sejak Aloysius masih muda, ia sudah berharap agar Tuhan berkenan memanggil putra sulungnya untuk berkarya di ladang-Nya. "Toh, Tuhan mempunyai rencana lain. Bukan anak pertama yang dipanggil-Nya menjadi imam tetapi justru putra ketujuh.”


Bagi Aloysius dan Aloysia, doa dan kerja merupakan dua hal yang penting yang selalu seiring sejalan. Mereka selalu menegaskan kepada anak-anak agar kapan pun dan di mana pun, selalu mengawali dan mengakhiri tugas masing-masing dengan doa. “Selain itu, disiplin dalam bertugas juga kami tanamkan kepada mereka dalam segala aktivitas mereka,” tandas Aloysius.


Tak mengherankan, seiring waktu yang bergulir, anak-anaknya berhasil menamatkan pendidikan tinggi. Dan, mereka bias menempati posisi yang baik sebagai Pegawai Negeri Sipil. “Saat ini, kami seperti menuai apa yang dulu kami tabur,” tandas Aloysius.


Hingga kini di usia senja, pasangan Aloysius dan Aloysia tetap menggarap lahan mereka. Meski anak-anak mereka telah berhasil, mereka tak mau merepotkan. Dan, hingga kini pula Aloysius dan Aloysia tetap mengawali dan mengakhiri aktivitas keseharian mereka dengan doa.


Sumber: HIDUP No. 19 Tahun ke-61 tanggal 13 Mei 2007

Misa Syukur 25 Tahun: ‘Perang’ Menyambut Sang Jubilaris

 
Prosesi keagaan di Belabaja, Lembata Nusa Tenggara Timur
Korfandus Boge Ketoj dan para penari menyambut Pastor Piet Payong SVD (gbr 2) dan ayahnya, Fransiskus Ola Ebang di gerbang masuk Boto, Foto: Istimewa
BELABAJA.DESA.ID - Ratusan umat Paroki St Joseph Boto, Lembata, Keuskupan Larantuka, NTT, tumpah di beranda kampung Boto, Sabtu, 3 Juli 2010. Mereka menyambut Pastor Petrus Payong, SVD untuk merayakan Misa Syukur 25 Tahun Imamat.


Pada sore yang cerah itu, ratusan umat sudah memadati kampung di lereng Gunung Labalekan dalam balutan panorama alam dan udara pegunungan yang sejuk. Mereka datang dari berbagai stasi seperti Puor, Imulolong, Posiwatu, Atawai, Liwulagang, Lamalewar, Bata, dan Belame di selatan Pulau Lembata.


Saat itu, jubilaris disambut dengan hedung, tari perang khas Adonara dan urulele serta namang –tari tradisional. Dua bersaudara: Korfandus Boge Ketoj dan Blasius Wurin Ketoj bersama tim penari menyuguhkan gerak yang indah.


Sembari berjalan kaki, mereka bergerak menuju gereja. Di tengah jalan, Pater Piet sejenak berdoa di kompleks pemakaman umum di pinggir kampung.


Pada Minggu, (4/7), Pater Piet mempersembahkan Misa bertema Syukur Atas Kasih Setia dan Karya Agung Allah. Tampil sebagai selebran utama, ia didampingi 12 imam. Antara lain Sinyo da Gomez, Pr, Piet Dua Maing, Pr, Yohanes Prasong, SVD, Florianus Faor Wujon, Pr, Patrisius Breket Mudaj, SSCC, Tarsisius Tupeng, Pr, Pastor Kristo, SVD, Stefanus Smata Pukan, SVD, Ignasius Ledot Kobun, SVD, Karolus Emi Wadan, SVD, Robertus Laga Manu Sakeng, Pr, dan lain-lain.


Sejumlah suster, bruder, dan frater juga ambil bagian dalam Misa. Antara lain, Sr Maria Theresiani, SND, Sr Maria Sipriana, PRR, Sr Maria Goreti Kobun, SSpS, Sr Erenberta de Ona, SSpS, Br Dominikus Doron Botoor, SVD, Fr Niko Lamak, CMM, dan sejumlah frater lain.


Pastor Piet Payong SVD, Foto: Istimewa
Imam Abadi
Dalam kotbahnya, Pastor Yohanes Prasong, SVD mengemukakan, kehadiran umat dalam Misa ini bertujuan mengucap syukur kepada Tuhan selama 25 tahun pengabdian Pater Piet Payong, SVD sebagai imam.


“Kita bergembira, berpesta sekaligus bersyukur atas kesetiaan Tuhan yang dilimpahkan kepada Pater Pieter sebagai imam selama 25 tahun. Tema yang mau kita renungkan adalah engkaulah imam untuk selamanya. Imam sampai kekal, sampai keabadian seperti Kristus,” ujar Pater Yan Prasong, sapaan akrab Pastor Yohanes Prasong, SVD.


Ia meminta agar dalam Misa, umat juga berdoa agar pengabdian itu tidak hanya sampai 50 tahun tetapi sampai kekal. Jika dikaitkan 2010 sebagai Tahun Imam, kita kembali melihat identitas seorang imam. Siapa itu imam dan apa tugas-tugasnya.


“Seorang imam mengambil bagian dalam Imamat Kristus yang satu-satunya. Imam yang benar adalah Kristus sendiri. Sedangkan yang lainnya adalah pelayan. Kurban yang benar adalah satu yaitu kurban Kristus di Salib,” kata Pater Yan.


Sekalipun kurban Kristus adalah unik, yang dilaksanakan hanya satu kali dan untuk selamanya namun kehadirannya ada pada setiap kurban ekaristi gereja. Demikian pula berlaku, imamat Kristus adalah imamat yang satu-satunya namun dihadirkan pula oleh imamat jabatan tanpa menghilangkan keunikan imamat Kristus.


Karena itulah, imamat Kristus yang benar dan yang lain adalah pelayannya (Ibrani: 7:4). Maka seorang imam adalah dalam beberapa poin berikut. Seorang imam tampil sebagai pelayan atas nama Kristus sebagai kepala tubuh mistik Kristus.


Di sela-sela Misa, Pater Piet membaharui diri dan mengungkapkan janji imamat serta kaul-kaul kebiaraan. “Di hadapan Tuhan dan umat sekalian yang hadir saya, Pastor Petrus Payong, SVD memutuskan dengan mantap untuk membaktikan seluruh hidup saya untuk Allah dan mengikuti Yesus Kristus, Sang Imam Abadi dan misionaris Bapa dengan mengabdi gereja-Nya yang Kudus dalam bentuk kehidupan menurut Injil,” ujarnya.


Pater Piet Payong SVD mengenyam pendidikan SD–SMP di Lembata. Ia kemudian menyelesaikan studi pada STFK Ledalero, Maumere, Flores. Pada 1 Juni 1985, ditahbiskan menjadi imam di Gereja St Maria dari Kanak-Kanak Yesus Kiwangona, Adonara. Motto tahbisan diambil dari Injil Lukas Pasal 21:19, “…..Ikutilah Aku….”


Setelah ditahbiskan, ia diutus sebagai misionaris di Mindanao, Filipina. Saat merayakan Misa Syukur Imamat, ia menjabat Pastor Paroki St Maria Parish, Trenyo, Agusan del Sur, Filipina.

Sumber: HATI BARU edisi Oktober 2010


Ket foto: Korfandus Boge Ketoj dan para penari (gbr 1) menyambut Pastor Piet Payong SVD (gbr 2) dan ayahnya, Fransiskus Ola Ebang di gerbang masuk Boto.

Jaringan Kerja Kami

Layanan Kami


Pemetaan Desa
Bisa diakses offline - online

Peta desa bisa diakses secara offline dan online.

Data Terus Diperbaharui KLIK Disini
Profil Desa
Bisa diakses offline - online

Sejarah Desa, Sejarah Pembangunan Desa, Profil Sosial Budaya dan ekonomi.

Data Terus Diperbaharui KLIK Disini
Infrastruktur
Bisa diakses offline - online

Kondisi fasilitas publik yang dimiliki desa Belabaja.

Data Terus Diperbaharui KLIK Disini
Data Desa
Bisa diakses offline - online

Agenda, Potensi, Produk Usaha, Peraturan, Rencana, Laporan dan Panduan Desa.

Data Terus Diperbaharui KLIK Disini

Hubungi Kami


Pemerintah Desa Belabaja
Nagawutun
Lembata, NTT, INDONESIA

112-345-678
infobelabaja@gmail.com

Tertarik dengan kerja dan layanan kami?
Dapatkan berita TERKINI !